HAMA DAN PENYAKIT

NAMA: I PUTU SUMARIANTO
STAMBUK: 2009 12 032
UNIVERSITAS ANDI DJAMA(UNANDA)
2010/2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjat kan kehadiran tuhan yang maha kuasa atas terselesainya makala yang berjudul “HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN”ini penyusun juga mengucapkan terimakasi atas dukungan bapa/ibik dosen dan teman-teman sekalian yang sagat membantu terselesainya makala mengenai HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN
Melalui makala ini kami juga igin menginpormasikan masukan kepada para pembaca mengenal PERTANIAN namun penyusun menyadari bahwa penyusun masih mempunyai kekurangan dalam penyusunan makalaini.karena itu kami memintak saran dan kritikan atas makala ini dan kami juaga memperbaiki lebih baik kedepan.
Masamba,MEI 2011
Penyusun
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………..…………………..……ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………1
A.LATAR BELAK…………………………………………….………………………….…1
B.RUMUSAN MASALAH…………………………….………………………..…………..2
C.TUJUAN PENULISAN…………………………………………………………………..2
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………………3
A.MASALAH HAMA DAN PENYAKIT………………………..……...…..………………3
B.KONSEP SEGITIGA PENYAKIT…………………….…………………………………..3
C. PENG FAKTOR IKLIM TERHDAP HAMA……………………….……………….……4
D.FAKT IKLIM PENYAKIT TUMBUHAN………………………………………………….5
E.EKLKLARASI………………………………………………………………………………….8
BAB IV KESIMPULA…………………………………………………………………………………10
II
BAB II
PENDAHULUAN
Perubahan iklim global yang menjadi perhatian masyarakat dunia adalah menipisnya lapisan ozon di lapisan stratosfir. Lapisan ozon berfungsi menyerap radiasi surya terutama sinar ultraviolet sebelum mencapai permukaan bumi, sehingga penipisannya berakibat meningkatnya suhu udara di permukaan bumi, dan menimbulkan gejala global warming. Sementara itu, penggundulan hutan yang terus terjadi (rata-rata 14,6 juta hektar per tahun), efek gas rumah kaca, kerusakan fisik lingkungan seperti pencemaran air, tanah dan udara, rusaknya lahan pantai, hutan, dan sebagainya Berkurangnya suberdaya lingkungan secara drastis menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan secara lokal, nasional dan global.
B.RUMUSAN MASALAH.
Adapun rumusan masalah dalam pembagunan pertanian yaitu:
1. Apa itu hama dan penyakit dalam pembangunan pertanian?
2. Bagai mana proses hama dan penyakit?
3. Kerusakan lingkungan dalam pembangunan pertanian?
C.TUJUAN.
Adapun tujuan dalam penulisan ini sebagai berikut ?
1. Mengetahui kendala hama dan penyakit dalam pembangunan pertanian?
1
2. Mengetahui proses hama dan penyakit ?
3.
4. Mencegah kerusakan lingkungan dalam pembangunan?
2
BAB II
PEMBAHASAN
A.apakah masalah hama- penyakit yang terkini di lapangan berkaitan dengan perubahan iklim tersebut.
faktor klim dengan perkembangan hama/penyakit, dikaitkan dengan fenomena permasalahan hama-dan penyakit terkini yang ada di lapangan. Sumber data hama dan penyakit berasal dari data luas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang disajikan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Laporan Safari Gotong Royong Nastari Bogor dan Klinik Tanaman IPB th 2007 di mana penulis ikut serta di dalamnya, serta pengamatan lapangan penulis di
berbagai daerah di Pulau Jawa.
B.Konsep Segitiga Penyakit:
Konsep ini berawal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, namun juga dapat diterapkan pada bidang ilmu hama . Pada dasarnya penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga faktor yaitu patogen, inang dan lingkungan mendukung. Inang dalam keadaan rentan, pathogen bersifat virulen (daya infeksi tinggi) dan jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung. Lingkungan berupa komponen lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya) maupun biotik (musuh alami, organisme kompetitor). Dari konsep tersebut jelas sekali bahwa perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas penyakit yang muncul.
3
C.Pengaruh Faktor-faktor Iklim terhadap Hama
Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et al. 2007).Contoh yang lain adalah pertumbuhan populasi penggerek batang padi putih berbeda antara musim kemarau dan musim hujan, sementara itu panjang hari berpengaruh terhadap diapause serangga penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata) di Jawa (Triwidodo, 1993). Umumnya serangga-serangga hama yang kecil seperti kutu-kutuan menjadi masalah pada musim kemarau atau rumah kaca karena tidak ada terpaan air hujan. Pada percobaan dalam ruang terkontrol peningkatan kadar CO2 pada selang 389 749μl/L meningkatkan reproduksi tungau Tetranychus urticae (Heagle et al., 2002) Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen. Sebagai contoh adalah perkembangan populasi ulat bawang Spodoptera exigua pada bawang merah lebih tinggi pada musim kemarau, selain karena laju pertumbuhan intrinsik juga disebabkan oleh tingkat parasitasi dan tingkat infeksi patogen yang rendah
(Hikmah, 1997).
4
D.Faktor-faktor iklim dan penyakit tumbuhan.
Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit. Garret et al. (2006) menyatakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen. Bakteri penyebab penyakit kresek pada padi Xanthomonas oryzae pv. oryzae mempunyai suhu optimum pada 30º C (Webster dan Mikkelsen, 1992). Sementara F. oxysporum pada bawang merah mempunyai suhu
pertumbuhan optimum 28-30 º C (Tondok, 2003). Bakteri kresek penularan utamanya adalah melalui percikan air sehingga hujan yang disertai angin akan memperberat serangan. Pada temperatur yang lebih hangat periode inkubasi penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum ) lebih cepat di banding suhu rendah. Sebaliknya penyakit hawar daun pada kentang yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans lebih berat bila cuaca sejuk (18-22 º C) dan lembab. Faktor-faktor iklim juga berpengaruh terhadap ketahanan tanaman inang. Tanaman vanili yang stres karena terlalu banyak cahaya akan rentan terhadap penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Fusarium. Ekspresi gejala beberapa penyakit karena virus tergantung dari suhu. Dinamika lingkungan biotik juga dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim. Habitat mikro daun atau disebut filoplan mempunyai tingkat kolonisasi ragi (yeast) yang lebih tinggi dibanding akar karena kemampuan mikrob tersebut untuk mentolerir kekeringan. Yeast tersebut berperan
5
penting dalam pengendalian hayati penyakit-penyakit yang menyerang tajuk. Jenis dan kelimpahan cendawan penghuni daun bawang merah yang bersifat saprofitik dipengaruhi oleh curah hujan dan kelembaban udara relatif (Wiyono, 1997).
E.Eskalasi
Pada kondisi ini hama-penyakit yang dulunya penting menjadi makin merusak, atau tingkat kerusakannya menjadi lebih besar. Contoh dari kasus ini adalah makin meningkatnya populasi dan kerusakan hama Thrips sp. pada tanaman cabai. Pada tahun kemarau 2006 Thrips menimbulkan kerugian yang besar pada usaha tani cabai di Tegal dan Brebes. Pada saat itu populasi sangat tinggi dan kerusakan berat, dan dilapangan tidak ada satu pestisida sintetik pun yang efektif mengendalikannya Pada tiga tahun terakhir ini menurut pengamatan penulis dan juga Laporan Safari Gotong Royong Nastari-Klinik Tanaman IPB (2007) serangan Thrips sp. Makin berat pada berbagai daerah pertanaman cabai seperti Brebes, Tegal, Pati, Klaten, Magelang dan Wonogiri. Thrips lebih berkembang pada musim kemarau, akan berkembang bila kemaraunya makin kering dan suhu rata-rata makin panas. Sebagai pembanding Thrips palmi pada terong di Taiwan mempunyai suhu optimum untuk perkembangan populasi pada 25 – 30
º C (Chen dan Huang, 2004). Selain itu serangan antraknosa cabai (Colletotrichum sp.) pada tahun-tahun terakhir ini juga makin berat. Cendawan fitopatogen ini berkembang pada musim hujan dan suhu yang hangat. Pengamatan penulis juga menunjukkan bahwa ekspresi gejala antraknosa cabai tidak hanya menimbulkan busuk pada buah tetapi juga mati ranting, sekali lagi menggambarkan makin beratnya penyakit ini. Penelitian dalam ruang terkendali di Australia
6
menunjukkan bahwa peningkatan kadar CO2 dari 350 ppm menjadi 700 ppm meningkatkan jumlah bercak dan keparahan penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) pada Stylosanthes (Chakraborty et al. 2002). Apakah peningkatan antraknosa di Indonesia juga dipengaruhi peningkatan kadar CO2, masih perlu diteliti lebih lanjut.
F.Peningkatan Status
Pada tipe ini hama/penyakit yang sebelumnya dianggap penyakit hama/penyakit minor berubah menjadi hama/penyakit penting. Contoh dari tipe perobahan ini adalah penggerek padi merah jambu (Sesamia inferens). Sebelumnya dinyatakan bahwa keberadaan penggerek batang merah jambu tidak banyak bila dibanding penggerek batang lainnya yaitu pengerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), dan penggerek batang padi putih (Scirpophaga innnotata). Pengamatan pada bulan April- Mei 2007 disejumlah tempat di Jawa yaitu Indramayu, Magelang, Semarang, Boyolali, Kulonprogo, dan Ciamis menunjukkan dominansi penggerek merah jambu dalam komunitas penggerek meningkat (Nastari Bogor dan Klinik Tanaman IPB, 2007). Kalshoven (1981) menyatakan bahwa penggerek merah jambu banyak berkembang di daerah-daerah kering yang mempunyai iklim kemarau yang jelas. Masih menjadi pertanyaan apakah peningkatan dominansi penggerek merah jambu berkaitan dengan musim kemarau yang lebih panjang. Pada musim hujan 2007 Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mempunyai daerah kekeringan terluas dan melebihi rata-rata 5 tahun terakhir. Penyakit kresek/BLB (bacterial leaf blight) pada padi oleh Xanthomonas oryzae pv. oryza menjadi penyakit terpenting dalam tiga tahun terakhir. Sepuluh tahun yang lalu penyakit ini tidak pernah dianggap sebagai penyakit
7
penting sehingga penelitian terhadapnya pun juga kurang. Suhu optimum utuk perkembangan penyakit adalah 30 C (Saddler, 2000). Karena penulatran utamanya melalui percikan air, hujan angin akan sangat memperberat penyakit karena. Apabila terjadi peningkatan suhu rata-rata akan mendorong perkembangan penyakit ini. Webb dalam Garret et al., (2006) juga menyatakan bahwa gen ketahanan padi terhadap X. oryzae pv. oryzae yaitu Xa 7 terekspresi lebih baik pada suhu yang meningkat, namun gen ketahanan lainnya justru terkspresi pada suhu yang lebih rendah. Penyakit moler/twisting disease pada bawang merah pada tahun 1997 tidak merupakan penyakit utama oleh petani bawang baik dataran rendah maupun tinggi (Triwidodo et al., 1997). Pada lima tahun terakhir terjadi peningkatan kejadian penyakit ini iil diperlukan.
E.Antisipasi
Menghadapi perubahan iklim dalam kaitan dengan perkembangan hama dan penyakit tanaman diperlukan beberapa langkah yang sesuai. Kajian komperehensif dampak perubahan iklim terhadap hama dan penyakit tanaman perlu dilakukan untuk menentukan langkah yang tepat bagi pemerintah maupun petani. Selain itu diperlukan peningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan mensikapi perubahan yang ada. Beberapa pengetahuan pribumi (indigenous knowledge) yang didasari oleh pengaturan masa tanam seperti pranata mangsa dalam masyarakat Jawa perlu dikaji kembali dan di rejuvenasi menghadapi perubahan yang berlangsung. Melihat masalah hama dan penyakit yang makin berat di Indonesia dari tahun ke tahun, perlu pendekatan sistem Pengendalian Hama Terpadu
8
Biointensif (Bio-intensive IPM) yang mengoptimalkan sumberdaya hayati yang ada. Untuk itu semua, kerjasama antara petani,pemerintah (pusat-daerah), perguruan tinggi/lembaga penelitian , civil society yang riil diperlukan. meramalkan bahwa dengan peningkatan suhu penyakit hawar daun tomat/kentang oleh P. infestans dan embun bulu pada bawnag bombay di Kanada akan menurun. Fakta di atas menunjukkan indikasi kuat tentang kaitan perubahan iklim sperti peningkatan suhu dengan masalah hama dan penyakit di Indonesia.
9
BAB III
KESIMPULAN
hama/penyakit yang sebelumnya dianggap penyakit hama/penyakit minor berubah menjadi hama/penyakit penting. Contoh dari tipe perobahan ini adalah penggerek padi merah jambu (Sesamia inferens). Sebelumnya dinyatakan bahwa keberadaan penggerek batang merah jambu tidak banyak bila dibanding penggerek batang lainnya yaitu pengerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), dan penggerek batang padi putih (Scirpophaga innnotata). Pengamatan pada bulan April- Mei 2007 disejumlah tempat di Jawa yaitu Indramayu, Magelang, Semarang, Boyolali, Kulonprogo, dan Ciamis menunjukkan dominansi penggerek merah jambu dalam komunitas penggerek meningkat (Nastari Bogor dan Klinik Tanaman IPB, 2007). Kalshoven (1981) menyatakan bahwa penggerek merah jambu banyak berkembang di daerah-daerah kering yang mempunyai iklim kemarau yang jelas. Masih menjadi pertanyaan apakah peningkatan dominansi penggerek merah jambu berkaitan dengan musim kemarau yang lebih panjang. Pada musim hujan 2007 Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mempunyai daerah kekeringan terluas dan melebihi rata-rata 5 tahun terakhir.
10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar